I. Latar Belakang
1.1 Pentingnya Studi
Pertumbuhan ekonomi dapat menyebabkan standar kehidupan meningkat. Pertumbuhan ekonomi tergantung pada ketersediaan sumber daya atau input, penggunaan sumber daya yang tersedia, perubahan teknologi, dan tata kelola yang baik. Efisiensi input dapat didefinisikan sebagai rasio penggunaan input terhadap PDB. Namun, rasio ini tidak dapat mendefinisikan efisiensi penggunaan input yang baik. Peningkatan dalam penggunaan input mengacu pada pengurangan input yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama, kemudian menunjukkan efisiensi penggunaan input. Oleh karena itu, baik deterministik (DEA) atau non-deterministik (stochastic frontier approach) digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan input. Makalah ini memiliki beberapa kontribusi penting. Pertama, membandingkan negara dengan tingkat pendapatan yang berbeda dalam studi tentang efisiensi input dan pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi. Kedua, makalah ini berbeda dari literatur efisiensi input dengan menganalisis korelasi antara efisiensi energi dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah, menengah, dan tinggi.
1.2 Novelty atau Penelitian Terdahulu
Hu dan Wang (2006) menganalisis efisiensi input 29 wilayah di China untuk periode 1995-2002 menggunakan DEA. Selanjutnya, studi dari Zhou, Ang dan Poh (2008) menyajikan survei literatur untuk menunjukkan apakah metode DEA sesuai untuk mengukur efisiensi input atau tidak. Studi dari Zhang et al (2011) bertujuan untuk menganalisis efisiensi input pada 23 negara berkembang selama tahun 1980-2005 menggunakan DEA. Mereka menggunakan model Tobit untuk menunjukkan hubungan antara efisiensi energi dan pendapatan per kapita. Studi ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan U-Shape antara efisiensi energi dan pendapatan per kapita. Zhou et al (2012) menggunakan pendekatan parametrik dan nonparametrik untuk mengukur efisiensi input di beberapa negara OECD untuk tahun 2001.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat banyak penelitian seperti, Filippini dan Tosetti (2014), Lundgren at al (2014) dan Miao dan Jin (2014) yang berfokus pada negaranegara OECD atau ekonomi nasional atau regional untuk negara tertentu. Semua studi menganalisis efisiensi input dan determinannya dengan menggunakan Analisis Stochastic Frontier atau Data Envelopment Analisis. DEA memberi batasan produksi terbaik berdasarkan variabel penjelas, seperti modal, tenaga kerja, dan energi dan variabel yang dijelaskan, seperti PDB riil setiap negara. Makalah ini menggunakan pendekatan matematika nonparametrik, DEA, untuk mengetahui hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan efisiensi input di negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah, menengah, dan tinggi selama periode 1991-2011.
II. Literature Review
Pertumbuhan ekonomi bergantung pada jumlah sumber daya atau input, penggunakan sumber daya atau input secara efisien, mengikuti perubahan kemajuan teknologi, dan cara pengelola yang baik. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara efisiensi pengunaan input dan pertumbuhan ekonomi dari 36 negara perpendapatan rendah, menengah keatas, tinggi selama tahun 1991-2011. Efisiensi input dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk mengoptimalkan penggunaan input dan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang spesifik tentang pertumbuhan ekonomi.
Dalam literatur model pertumbuhan ekonomi didasarkan pada model Solow. Solow mengatakan penyebab pertumbuhan ekonomi adalah tenaga kerja dan modal. Bentuk fungsi produksinya adalah :
Q = f (K,L)
Keterangan :
Q : Jumlah output yang dihasilkan
K : Capital (modal sebagai input)
L : Labor (Tenaga kerja sebagai input)
Q : Jumlah output yang dihasilkan
K : Capital (modal sebagai input)
L : Labor (Tenaga kerja sebagai input)
Rumus di atas menyatakan bahwa output (Q) merupakan fungsi dari modal (C) dan tenaga kerja (L). Ini berarti tinggi rendahnya output tergantung pada cara mengombinasikan modal dan tenaga kerja. Model Solow sebagai salah satu model pertumbuhan ekonomi memberikan analisis statis bagaimana keterkaitan antara akumulasi modal, pertumbuhan populasi penduduk, dan perkembangan teknologi serta pengaruh ketiganya terhadap tingkat produksi output.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam model Solow :
a) Tingkat pertumbuhan angkatan kerja ditentukan secara eksogen.
b) Fungsi produksi merupakan fungsi dari Modal dan tenaga kerja.
c) Investasi dan tabungan merupakan bagian yang tetap dari output.
a) Tingkat pertumbuhan angkatan kerja ditentukan secara eksogen.
b) Fungsi produksi merupakan fungsi dari Modal dan tenaga kerja.
c) Investasi dan tabungan merupakan bagian yang tetap dari output.
DEA merupakan suatu pendekatan nonparametrik yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari Linear Programming (LP). Data Envelopmemt Analysis berfungsi untuk menilai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (input) untuk mencapai hasil (output) yang tujuannya untuk maksimalisasi efisiensi. Dengan DEA kita dapat mengukur efisiensi input di negara-negara berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi selama periode 1991-2011. Data Envelopment Analysis juga dapat digunakan untuk mengukur efisiensi, antara lain untuk penelitian kesehatan (health care), pendidikan (education), pabrik (manufacturing), transportasi (transportation) maupun perbankan (banking).
Ada tiga manfaat yang diperoleh dari pengukuran efisiensi dengan DEA, diantaranya:
- Pertama, sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relatif yang berguna untuk mempermudah perbandingan antar unit ekonomi yang sama.
- Kedua, mengukur berbagai variasi efisiensi antar unit ekonomi untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya.
- Ketiga, menentukan implikasi kebijakan sehingga dapat meningkatkan tingkat efisiensinya.
III. Metodologi, Data, dan Model
3.1. Data dan Variabel
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat pertumbuhan ekonomi, PDB riil (konstan dolar AS 2005), employement (total), capital stock (konstan US $ 2005), dan penggunaan energi (setara minyak) untuk setiap negara. Data mencakup tahun 1991-2011 untuk 36 negara (berpenghasilan rendah (8), berpenghasilan menengah ke atas (8), dan negara-negara berpenghasilan tinggi (20)). Data termasuk 756 pengamatan secara total. Pilihan negara didasarkan pada ketersediaan data untuk tingkat kelompok pendapatan.
3.2. Metodologi
Paper ini meneliti hubungan antara efisiensi penggunaan input dan pertumbuhan ekonomi untuk negara pendapatan rendah, negara berpendapatan menengah ke atas dan negara berpenghasilan tinggi menggunakan DEA berdasarkan indeks TFP Malmqüist. Indeks Malmqüist yang disarankan oleh Caves et al., (1982) diigunakan untuk menyajikan indeks perubahan efisiensi teknis dan perubahan teknologi dengan menggunakan fungsi jarak. Fungsi jarak (distance functions) dapat dibentuk sebagai input-oriented atau output-oriented.
Fungsi jarak input dapat didefinisikan pada set input, seperti (coelli, Rao, dan Battaese, 1998). :
Di mana set input L (y) menyajikan set semua vektor input, x, yang dapat menghasilkan vektor output, y.
Fungsi jarak adalah kebalikan dari penelitian Farrel (1957). Fungsi ini, yang mengukur jarak untuk observasi dari technology frontier, yang berarti "efisiensi teknis". Jarak dapat dijelaskan dengan persamaan berikut :
Pendekatan berorientasi input menggambarkan inefisiensi teknis sebagai bagian dari pengurangan proporsional dalam penggunaan input sementara tingkat output tetap konstan. DEA secara komparatif menghitung efisiensi unit pengambilan keputusan sebagai rasio jumlah output tertimbang mereka dengan jumlah input tertimbang mereka. Ukuran efisiensi relatif dapat didefinisikan sebagai berikut
Di mana ϵ adalah konstanta yang sangat kecil, yang memaksa semua input dan output memiliki bobot (El Mahgay dan Lahdelma, 1995); TEj adalah skor efisiensi teknis dari unit yang diberikan j, x dan y menunjukkan input dan output dan v dan u masing-masing menunjukkan bobot input dan output; s adalah jumlah input dan r adalah jumlah output dan j menunjukkan jth DMU.
Malmquist indeks perubahan produktivitas atau perubahan total faktor produktivitas (TFP) selama periode (t - t + 1) adalah diukur sebagai (Fare et al., 1994).
Sesuai dengan persamaan 4, menentukan jarak dari observasi periode t ke teknologi periode t + 1. Terdapat 2 komponen yang merubah TFP yaitu perubahan efisiensi dan teknologi. Indikator perubahan efisiensi teknis (EC) diwakili oleh persamaan 5.
EC menunjukkan konvergensi atau mengejar kinerja negara ke perbatasan praktik terbaik jika membandingkan ukuran efisiensi teknis periode t+1 dengan t. TC ditunjukkan dengan
Dari penjelasan tersebut Total Faktor Produktivitas ditunjukkan pada persamaan 6.
EC> 1 : Negara mengejar batas praktik terbaik dari periode t + 1 hingga periode t.
EC <1 : Negara ini jatuh di belakang perbatasan praktik terbaik.
EC = 1: Negara belum memperbaiki posisinya sehubungan dengan perbatasan praktik
TC> 1 : Terdapat kemajuan teknis.
TC <1 : Tidak ada kemajuan teknis (regresi teknis)
EC <1 : Negara ini jatuh di belakang perbatasan praktik terbaik.
EC = 1: Negara belum memperbaiki posisinya sehubungan dengan perbatasan praktik
TC> 1 : Terdapat kemajuan teknis.
TC <1 : Tidak ada kemajuan teknis (regresi teknis)
Model DEA : Mempertimbangkan N industri dan setiap industri menghasilkan output tunggal dengan input K.
Keterangan :
xit = vektor kolom input
yit = skala yang mewakili output industri ke-i
x = matriks K x NT
y = matriks output 1 x NT
xit = vektor kolom input
yit = skala yang mewakili output industri ke-i
x = matriks K x NT
y = matriks output 1 x NT
Persamaan N1’λ = 1 menunjukkan kendala konveksitas pada variabel return ke skala kasus.
Perusahaan dapat dibandingkan dengan perusahaan yang signifikan lebih besar atau kecil dalam skala konstan, karena dalam skala pengembalian konstan, pembatasan konveksitas tidak dibatasi. Kemudian bobot λ akan menjumlahkan nilai yang lebih besar dari satu.
1 ≤θ< ∞, λ adalah vektor bobot Nx1 1/θ menunjukkan skor efisiensi teknis
Skor ini dapat berkisar antara nol dan satu. Selain itu, skor efisiensi teknis dapat terletak pada nilai poin apa pun di perbatasan.
IV. Analisis dan Pembahasan
4.1 Efisiensi Teknis dan Komponen Perubahan Faktor Produktivitas Total
Tabel-tabel berikut menunjukkan nilai dari efisiensi teknis (Technical Efficiency/TEFF), perubahan efisiensi (Efficiency Change/EFFC), perubahan teknologi (Technological Change/TC) dan perubahan faktor produktivitas total (Total Factor Productivity Change/TFPCH) dan tingkat pertumbuhan ekonomi (Economy Growth) untuk periode 1991-2011 dalam negara berpendapatan rendah (tabel 4), negara berpendapatan menengah keatas (tabel 5), dan negara berpendapatan tinggi (tabel 6).
Tingkat efisiensi teknis (TEFF) diperoleh dengan menggunakan Persamaan (7) dengan metode DEA. Tingkat efisiensi teknis hasilnya di antara nol dan satu. Jika hasil persamaan menunjukkan nilai satu (=1), maka negara tersebut telah menggunakan input secara efisien. Jika hasil tersebut kurang dari 1 (<1), maka negara tersebut belum menggunakan input secara efisien.
Di sisi lain, peningkatan efisiensi (EFFC) menunjukkan keberhasilan negara-negara dalam meningkatkan teknologi global dan disajikan sebagai faktor pengejar (catch up factor) (Rao dan Coelli 1998b). Selain itu, peningkatan efisiensi menunjukkan penggunaan input dan teknologi yang lebih efisien. Perubahan teknologi (TC) menunjukkan pergeseran batas produksi. Jika TC lebih besar dari 1 (>1), menunjukkan peningkatan dalam teknologi, sebaliknya jika TC kurang dari 1 (<1) menunjukkan penurunan dalam teknologi.
Tabel 4. Efisiensi Penggunaan Input dan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Berpenghasilan Rendah
Penjelasan : Negara-negara berpenghasilan rendah memiliki efisiensi penggunaan input (TEFF) yang rendah, kecuali Maroko. Skor dari TEFF adalah 1, yang berarti input digunakan secara efisien di Maroko selama periode 1991-2011. Selain itu, tingkat pertumbuhan Maroko (Economic Growth) relatif lebih tinggi daripada negara-negara berpenghasilan rendah lainnya. Namun skor EFFC, TC dan TFPCH umumnya rendah.
Tabel 5. Efisiensi Penggunaan Input dan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Berpenghasilan Menengah Keatas
Penjelasan : Dalam konteks 8 negara berpenghasilan menengah keatas, ada inefisiensi penggunaan input (TEFF), kecuali untuk Turki. Meskipun di hampir semua negara, TC sedikit meningkat, namun tidak berdampak pada efisiensi input.
Tabel 6. Efisiensi Penggunaan Input dan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara Berpenghasilan tinggi
Penjelasan : Menunjukkan bahwa skor TEFF bernilai 1 untuk negara-negara Norwegia, Swedia dan Swiss selama periode 1991-2011. Hasil ini menunjukkan bahwa input digunakan secara efisien di negara-negara tersebut. Hampir semua negara berpenghasilan tinggi dengan nilai TC dan TFPCH lebih dari 1. Ini menunjukkan, ada kemajuan dalam teknologi dan produktivitas. Itu artinya perubahan teknologi positif mempengaruhi produktivitas dan penggunaan input.
Secara umum, penggunaan input dari negara-negara berpenghasilan tinggi lebih efisien daripada penggunaan input dari negara-negara berpenghasilan rendah dan negaranegara menengah keatas. Namun tingkat pertumbuhan negara-negara (Economic Growth) berpenghasilan rendah relatif lebih tinggi. Ini berarti bahwa pertumbuhan di negara-negara berpenghasilan rendah mengandalkan penggunaan input daripada efisiensi input. Ekonomi dari negara-negara berpenghasilan tinggi hampir mendekati kapasitas penuh, oleh karena itu tingkat pertumbuhan negara-negara berpenghasilan tinggi relatif rendah.
4.2 Hubungan Antara Efisiensi Teknis dan Pertumbuhan Ekonomi
Efisiensi Teknis menggambarkan kemampuan sebuah perusahaan dalam menghasilkan output maksimum dengan sejumlah input tertentu. Bagian ini merupakan penting karena menganalisis efisiensi penggunaan input dengan pertumbuhan ekonomi. Hasil yang diharapkan dalam analisis ini adalah adanya dampak positif dari efisiensi penggunaan input terhadap pertumbuhan ekonomi. Tabel dibawah ini akan menunjukkan rata-rata pertumbuhan ekonomi, TEFF (Technical Efficiency), EFFC (Efficiency Change), TC (Technological Change), dan TFPCH (Total Factor Productivity Change) dan koefisien korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan EFFC, pertumbuhan ekonomi dan TC, pertumbuhan ekonomi dan TFPCH selama periode 1991-2011.
Keterangan untuk lower income countries:
- Terdapat sedikit kemajuan teknologi (1,002).
- Terdapat penurunan produktivitas (0,995).
- Pertumbuhan ekonomi cukup (3,1).
- Hasil diatas menunjukkan bahwa negara ini tidak berkembang dan ekonomi mereka jauh dari keadaan full employment (kondisi dimana seluruh faktor produksi telah digunakan secara penuh dan efisien)
- Jumlah penggunaan input dan perubahan teknologi hanya berdampak kecil pada pertumbuhan ekonomi. (EFFC,TC,TFPCH negative)
Keterangan untuk upper-middle income country:
- Terdapat kemajuan teknologi dan produktivitas. (1,006 dan 1,007)
- Koefisien antara pertumbuhan ekonomi dan TC negative, hal ini dikarenakan produksi yang didasarkan pada jumlah input bukan pada perubahan teknologi.
- Efisiensi penggunaan input relative lebih tinggi (0,747).
- Pertumbuhan ekonomi hanya didukung oleh perubahan total faktor produktivitas (tanda positif)
Keterangan untuk high income countries:
- Terdapat kemajuan dalam teknologi dan produktivitas (1,007 dan 1,006)
- Semua koefisien korelasi adalah positif, maka pertumbuhan ekonomi bergantung pada efisiensi input yang didasarkan pada perubahan teknologi dan produktivitas, bukan jumlah penggunaan input.
Keterangan:
- Di negara-negara berpenghasilan rendah, pertumbuhan ekonomi didasarkan pada penggunaan input, terutama tenaga kerja dan modal,alih-alih teknologi.
- Efisiensi input tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
- Faktor produksi teknologi, memiliki efek yang kuat pada pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpenghasilan tinggi.
- Efisiensi penggunaan input yang mengandalkan teknologi valid di negara-negara ini.
- Sejumlah besar tenaga kerja dan modal telah digunakan di negara berpenghasilan rendah selama periode 1991-2011.
- Jumlah penggunaan tenaga kerja dan modal tingginegara-negara berpenghasilan berada pada level terendah.
V. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan
5.1 Kesimpulan
Makalah ini pertama kali menggunakan metode DEA untuk menganalisis efisiensi input dari negara-negara berpenghasilan rendah, menengah ke atas negara-negara berpenghasilan tinggi dan negara-negara berpenghasilan tinggi antara tahun 1991-2011. Kedua menganalisis, hubungan antara efisiensi penggunaan input dan pertumbuhan ekonomi untuk negara-negara dengan pendapatan rendah, pendapatan menengah ke atas dan pendapatan tinggi selama periode 1991 hingga 2011.
Hasil makalah menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah adalah relatif lebih tinggi meskipun ada inefisiensi dalam penggunaan input. Namun, hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi, perubahan teknologi, pertumbuhan dan perubahan total faktor produktivitas menunjukkan bahwa suatu pertumbuhan ekonomi didasarkan pada penggunaan input (input apa yang digunakan, berapa besar pengguunaan input), bukan efisiensi input (bagaimana input digunakan). Pertumbuhan ekonomi dipastikan melalui jumlah input pada tingkat tinggi, sementara peningkatan efisiensi tidak memadai untuk meningkat. Alasan tidak adanya atau tidak memadainya peningkatan total faktor produktivitas berasal dari motivasi pertumbuhan yang terbatas, kapasitas yang rendah untuk peningkatan teknologi/transfer/penggunaan dan akhirnya, kemampuan tenaga kerja rendah dari perusahaan kecil untuk negara dengan pendapatan tinggi, dimana terjadi inefisiensi input, tingkat pertumbuhan relatif lebih rendah daripada negara-negara lain. Itu alasannya adalah negara-negara ini lebih maju. Sehingga perekonomian mereka hampir mendekati kapasitas penuh produksi (full capacity of production). Namun demikian, nilai positif dari perubahan teknologi dan perubahan total faktor produktivitas, menunjukkan bahwa teknologi dan efisiensi lebih tinggi di negara-negara ini.
Untuk ekonomi yang mengandalkan perubahan total faktor produktivitas tinggi, mereka diharuskan untuk mementingkan hal penggunaan input terutama modal manusia dan investasi di sektor pendidikan. Karena, kekuatan pendorong di negara-negara ini adalah peningkatan penggunaan input, input ini perlu didukung dengan investasi produktif dan ini investasi juga harus dapat meningkatkan lapangan kerja. Akhirnya, perusahaan harus mengembangkan kegiatan inovatif dan ini harus memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan karena meningkatkan efisiensi.
5.2 Rekomendasi Kebijakan
Walaupun negara dengan pendapatan rendah dan menengah memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada negara dengan pendapatan tinggi, namun nyatanya tidak diikuti oleh produktivitas yang tinggi. Untuk itu, perlu peningkatan dalam kualitas sumber daya manusia dan investasi di sektor pendidikan sebagai upaya peningkatan produktivitas masyarakat. Pemerintah negara dengan pendapatan rendah dan menengah dapat memberikan kebijakan berupa : program pelatihan keahlian khusus, peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan vokasi, subsidi biaya pendidikan, penggalakkan budaya literasi dari tingkat terendah, sertifikasi keahlian, akses kesehatan terjangkau, dan pendapatan yang layak bagi setiap warga negara.
Dengan terbentuknya masyarakat dengan kualitas tinggi dan berpendidikan, maka secara otomatis akan mendorong produktivitas dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat akan mengenal teknologi, berinovasi, berprestasi, serta meningkatkan efisiensi dalam produksi.
VI. Kelebihan dan Keterbatasan Studi
6.1 Kelebihan
- Karena dalam penelitian menggunakan metode DEA, maka dapat menangani banyak input dan output, dimana tidak memerlukan asumsi hubungan fungsional atau matematis anatara variable input dan output. Sedangkan untuk hasilnya dapat diimplikasikan untuk membuat beberapa kebijakan guna meningkatkan efisiensi input.
- Menggolongkan negara menjadi tiga golongan negara yang memiliki tingkat pendapatan yang berbeda dan membandingkan efisiensi input yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
- Menganalisis korelasi antara efisiensi energi dan pertumbuhan ekonomi di negara berpendapatan rendah, menengah, dan tinggi.
6.2 Keterbatasan
Tenaga kerja, modal, dan efisiensi penggunaan energi dapat didefinisikan sebagai rasio penggunaan input terhadap domestik bruto. Tetapi, pengukuran ini bukan merupakan indikator efisiensi pengukuran input yang baik. Peningkatan input akan mengacu pada pengurangan input yang digunakan terhadap output (PDB), kemudian hal ini menunjukkan efisiensi penggunan input.

No comments:
Post a Comment